​Mahasiswa PPG FKIP Unsyiah dibekali Pelatihan Pembinaan UKS

Dalam memenuhi sebuah pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan yang sehat di sekolah, dibutuhkan usaha untuk melengkapi sarana dan prasarana mengenai fasilitas kesehatan yang terkait agar terwujudnya masa depan yang cerdas dan sehat. Sarana yang dimaksud yaitu pemenuhan fasilitas kesehatan yang termasuk didalamnya berupa penyuluhan kesehatan, dokter kecil, perawat kecil, perlengkapan P3K dan siap siaga bencana. Sebagai bagian perpanjangan dan mitra kerja dari Puskesmas, setiap sekolah menempatkan segala fasilitas kesehatan tersebut pada prasarana di sekolah yaitu Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua dan siswa.

Pada hari Sabtu 7 April 2018 diadakan Pelatihan Pembinaan UKS yang menghadirkan Narasumber yang salah seorang dosen dari Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala yaitu Ns. Cut Husna, S.Kep., MNS yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unsyiah pada pukul 08.00 s.d 12.30 bertempat di ruang Auditorium FKIP Universitas Syiah Kuala. Acara pelatihan yang dibuka oleh Dr. Samingan, M.Si, beliau menyampaikan bahwa pelatihan pembinaan UKS ini diberikan untuk memenuhi empat kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Pelatihan Pembinaan UKS bagi mahasiswa PPG Unsyiah 2018 yang dilaksanakan secara terarah dan terpadu diharapkan dapat menanamkan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi calon guru utk dapat melaksanakan prinsip hidup sehat dan cepat tanggap terhadap keselamatan siswa di sekolah.

Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah/madrasah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan siswa dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Maka dari itu pembinaan UKS bagi mahasiswa PPG dilakukan agar memiliki modal sebagai guru profesional yang mampu menciptakan perilaku hidup sehat dan derajat kesehatan siswa di sekolah.

Para mahasiswa PPG diberikan 3 sesi pelatihan dan pembinaan UKS. Pertama, mahasiswa PPG yang merupakan calon guru diberikan pemahaman tentang Perawatan Luka dan Tindakan Asepsis. Pengetahuan dalam mengambil tindakan perawatan luka ringan yang dibantu oleh guru di sekolah dalam menggunakan fasilitas kotak P3K dianggap penting sebagai penanganan awal terhadap kecelakaan dalam lingkungan sekolah sebelum diserahkan pada puskesmas dan perawat medis. Didalam sesi ini terdapat pernyataan bahwa, para guru muda SM-3T pada saat ditempatkan di daerah 3T, guru juga dianggap sebagai perawat medis untuk siswa karena memiliki ilmu dalam perawatan luka dan tindakan asepsis. Hal ini mendorong keyakinan bagi para mahasiswa PPG untuk terus mendalami ilmu kesehatan dalam pembinaan UKS.

Pada sesi kedua, narasumber memberikan paparan tentang cara menghadapi siswa yang mengalami Hipoglikemia (kekurangan gula darah) yang menyebabkan siswa pingsan pada saat mengikuti upacara atau kegiatan yang lazim terjadi di sekolah. Pemahaman ini diberikan agar guru lebih siap menghadapi kondisi seperti ini dan mengetahui apa tindakan selanjutnya yang harus diberikan bagi keselamatan siswa. Pada sesi ini juga banyak diberikan pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa PPG FKIP Unsyiah tentang bagaimana tindak lanjut terhadap siswa yang sakit agar tidak salah dalam mengambil tindakan cepat tanggap keselamatan siswa.

Sesi terakhir menjelaskan tentang peranan guru dan mahasiswa PPG FKIP Unsyiah 2018 terhadap kesehatan di lingkungan sekolah. Pembinaan lingkungan sekolah bertujuan untuk mewujudkan lingkungan sehat di sekolah/madrasah yang memungkinkan setiap warga sekolah/madrasah mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya dalam rangka mendukungtercapainya proses belajar yang maksimal bagi setiap siswa. Pembinaan lingkungan sekolah sehat yang meliputi:

  • Lingkungan fisik (konstruksi ruang dan bangunan, pencahayaan, ventilasi, kebisingan, kepadatan, sarana air bersih dan sanitasi, halaman, jarak papan tulis, vektor penyakit, kantin, meja, kursi).
  • Lingkungan non fisik (perilaku tidak merokok, perilaku membuangsampah pada tempatnya, perilaku mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih mengalir, dan perilaku memilih makanan jajanan yang sehat).

Para guru diharapkan ikut andil dalam penerapan kantin sehat yaitu dengan menyediakan penganan yang sesuai untuk siswa yang bebas dari segala macam zat yang berbahaya bagi tubuh seperti borax, formalin, pewarna textile dan makanan yang tidak higienis. Seorang guru diharapkan dapat mengubah tingkah laku siswa secara perlahan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang disediakan pada kantin sekolah yang saat ini dianggap masih kurang sehat dan penyajian yang tidak sesuai prosedur atau tidak higienis agar terwujudnya generasi siswa-siswa terbaik di masa yang akan datang. Diakhir kegiatan pelatihan pembinaan UKS dilakukan praktik bersama Narasumber dan mahasiswa dalam perawatan luka dan tindakan asepsis bertujuan agar lebih terampil dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan di sekolah.


Penulis : Putri Restu Damayanti

Editor : Zulfahmi


Galeri

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya